Selasa, 25 Maret 2014

Happy 7th month my dearest

My dearest son, moja dusa, i love you so much...

It is already seven months... you are gift in my life... Sorry, this morning i forgot your 7th month my Sebastian Slavic... your grandmother reminded me about your 7th month...

Now, you are bigger and stronger... your smile is very beautiful... your happiness erase my sadness... you are my everything...

I hope you always be my sun, my soul, my heart, my happiness, my source of smile, my EVERYTHING...

Lord JESUS please bless my son always, my little family (me and my husband) to always educate Sebastian well, to always beside him, to guide him, encourage him to find his faith, and be a smart man...

HAPPY 7th MONTH MY SEBASTIAN SLAVIC

Your MOM & DAD 

Jumat, 24 Januari 2014

Welcome to the world BABY BOY

Jujur saya tidak menyangka bahwa Tuhan memberikan anugerahNYA yang luar biasa dalam waktu yang cepat. Saya dan suami memang tidak 'ngotot' untuk memiliki seorang bayi. Kami berdua hanya berserah dan berpasrah kepada Tuhan atas apa yang terjadi dan akan terjadi di dalam kehidupan kami berdua. Kami menikah pada tanggal 24 November 2012, setelah hampir 7 (tujuh) tahun menjalani masa 'pacaran'. Tiga minggu setelah kami menikah, suami harus kembali ke negara tempat dia bekerja dan kami sudah menetapkan komitmen untuk menjalani kehidupan pernikahan kami walaupun jarak memisahkan (red. jarak yang sangat jauh). 


Saya baru mengetahui dia ada bersama saya pada waktu pertama kali melakukan "test pack" dan hasilnya positif. Untuk memastikan keakuratan dari test pack akhirnya saya memeriksakan kandungan ke dokter spesialis di RS Mitra Keluarga Bekasi pada tanggal 2 Januari 2013 ditemani adik saya. Setelah dokter mengatakan bahwa benar saya telah hamil, saya langsung memberi kabar kepada suami saya. Suami saya bahagia akan kabar gembira ini namun di sisi lain dia mengalami kebimbangan karena dia tidak bisa mendampingi saya selama masa kehamilan. Setelah bergelut dengan pikiran-pikirannya sendiri, suami mengutarakan niatnya untuk membawa saya yang sedang hamil untuk tinggal bersama-sama di negara tempat dia bekerja. Saya tidak bisa langsung memberikan jawaban atas niat baik suami saya karena saya juga punya tanggung jawab atas pekerjaan saya. Hati dan pikiran saya bergejolak, apakah karir yang sudah saya bangun selama hampir 5 tahun harus berakhir demi kehidupan rumah tangga yang baru? Apakah saya siap untuk meninggalkan semua kegiatan saya? Apakah saya bisa hidup jauh dari keluarga? Apakah semua akan baik-baik saja? Ya, pertanyaan terakhir saya tahu bahwa jawabannya akan baik-baik saya tergantung bagaimana saya yang menjalani itu dengan hati lapang dan baik. Setelah 1 bulan saya bergelut dengan diri saya dan keluarga besar saya, saya memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaan saya di sebuah bank swasta terbesar. Keputusan ini membuat keluarga besar saya sangat kecewa, hati kecil saya pun merasa sangat sedih dan kecewa. Namun inilah jalan yang saya pilih. Dan saya tidak boleh terus menerus larut dalam kesedihan karena janin di dalam rahim ini tidak boleh merasakan kesedihan. Akhirnya saya berangkat dan tinggal bersama suami saya. Saya memulai kehidupan baru, pekerjaan baru dan tentu saja lingkungan yang baru.


Janin di rahim ini semakin bertumbuh dan berkembang. Bulan demi bulan kami lalui bersama. Baik itu saat senang maupun sedih. Saat saya dihampiri rasa sedih, saya berusaha untuk kembali senang karena apa yang saya rasakan, janin juga merasakan. Hampir setiap malam, kami mendengarkan musik klasik bersama. Setiap pagi saya mendendangkan lagu rohani untuknya. Lagu yang paling sering saya nyanyikan adalah "Selamat pagi Bapa, Selamat pagi Yesus, Selamat pagi Roh Kudus, Terima kasih atas anugrahMU semalam t'lah berlalu, ku memuji, ku bersyukur, memuliakan namaMu, Allah BAPA PUTRA ROH KUDUS, Trima kasih". Apabila saya menyanyikan lagu tersebut, janin saya akan menendang-nendang perut saya ^^

Apabila di kantor, saya melakukan senam kecil agar tubuh saya fit dan dengan begitu anak saya juga sehat. Saya banyak minum air, minimal 10 gelas per hari. Selain itu saya rutin mengkonsumsi berbagai macam vitamin maupun suplemen untuk tumbuh kembang anak saya di dalam janin. Saya juga menambah wawasan dengan membaca artikel mengenai persiapan ibu yang sedang hamil agar janin tumbuh sehat dan kelak menjadi anak yang cerdas. Makanan-makanan yang disarankan seperti ikan, buah (bluberi, rasberry, anggur, apel, pisang, alpukat), kacang-kacangan (almond, hazelnut, kacang hijau) saya konsumsi setiap hari. Setiap bulan saya rutin melakukan pemeriksaan ke dokter kandungan. Dan menurut hasil USG, bayi saya adalah perempuan. Dan setiap bulan saya menyaksikan tumbuh kembangnya di dalam rahim saya. Luar biasa anugerah Tuhan.

Saya dan suami mempersiapkan perlengkapan bayi mulai dari box bayi, pakaian, bak mandi, bedak, sabun, dan lain-lain dengan warna pink ^^ karena dokter mengatakan bahwa bayi kami perempuan. Saya dan suami sangat antusias mempersiapkan segalanya untuk calon bayi kami.

Akhirnya setelah 9 bulan bersama, pada tanggal 25 Agustus 2013 dia menunjukkan tanda bahwa dia telah siap lahir ke dunia ini. Hari minggu subuh pukul 3 saya mengalami flek, saya sedikit gugup karena menurut yang saya baca bahwa ini adalah salah satu tanda bahwa dia siap untuk lahir ke dunia. Namun suami saya mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja, mungkin masih seminggu baru lahir. Saya kembali tidur namun saat saya bangun pukul 7 pagi, flek semakin bertambah banyak. Suami menyarankan untuk menghubungi dokter dan dokter langsung meminta saya untuk langsung segera ke rumah. Setibanya saya di rumah sakit ternyata sudah bukaan tiga. Hahahahaaaaa... Saya berfikir mungkin karena saya terlalu banyak jalan sehari sebelumnya. Dokter mengatakan bahwa suami dan mama saya harus pulang ke rumah karena peraturan di rumah sakit sangat ketat, tidak memperbolehkan siapapun untuk menemani selama persalinan. AKhirnya dengan berat hati, mama dan suami saya pulang dan harus menunggu di rumah dengan cemas. Saya diinstruksikan oleh dokter untuk segera menuju ruangan persalinan.  Saat itu pukul 12 siang, saya harus melakukan gliserin terlebih dahulu, setelah itu pindah ke ruangan khusus untuk menghitung jumlah kontraksi dan akhirnya saya masuk di ruang persalinan. Di dalam ruang persalinan ada satu wanita yang juga akan melahirkan. Dia sudah masuk ruang bersalin dari pukul 8 pagi. Akhirnya saya memulai perjuangan saya untuk bersalin di ruangan ini. Takut, gugup, pasrah, itu yang saya rasakan pada waktu itu. Teman di samping saya berteriak histeris saat merasakan sakit kontraksi, saya menguatkannya dan mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja. Jujur saya juga sedikit takut namun saya mencoba untuk menghalau ketakutan itu dengan pikiran menyenangkan bahwa saya akan melihat anak saya terlahir di dunia. Setiap 30 menit dokter datang untuk memeriksa kontraksi dan jumlah bukaan saya. Puji Tuhan saya tetap tenang menghadapi semua itu. Walaupun saya merasakan sakit kontraksi saya tetap berusaha tetap tenang dan kontraksi yang saya alami teratur. Akhirnya setelah berjuang hampir 6 jam, dokter mengatakan: "Ini saatnya kamu mengeluarkan anakmu. Pada saat kamu merasakan kontraksi kamu harus mengeluarkan semua tenagamu." Akhirnya lahirlah bayi LAKI-LAKI dengan proses normal. Sungguh mujizat nyata di dalam hidup saya. Sukacita penuh setelah bayi ini telah lahir ke dunia. Tangisnya pecah, namun itulah tanda pertama bahwa dia telah lahir. Suster membawa bayi laki-laki ini ke dekapan saya dan saya mengagumi keagungan Tuhan ini. Setelah itu suster mengambilnya dan memandikannya lalu mengenakan lampin dan dibawa ke ruangan bayi. Kemudian saya langsung menghubungi suami saya dan memberi kabar bahwa anak kami telah lahir. Dan suami saya langsung memberi nama Sebastian. Nama ini diambil dari nama Sebastian Vettel karena selama menunggu proses persalinan, suami menonton Formula 1 dan pemenangnya adalah Sebastian Vettel. Namun arti dari nama Sebastian adalah yang dihormati, yang patut dimuliakan. Nama Sebastian diambil dari bahasa Yunani. 

Selamat datang anakku ke dunia. Be a HERO for us^^